DAFTAR KRISIS PERUSAHAAN DI BERBAGAI SEKTOR (Contoh kasus)

JOHNSON & JOHNSON

Johnson & Johnson NYSE: JNJ adalah perusahaan multinasional produsen farmasentika, peralatan medis, dan barang konsumsi yang bermarkas di New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan tahun 1886 ini memiliki 230 anak perusahaan, beroperasi di 57 negara, dan mempekerjakan sekitar 116.200 pekerja. Produk-produknya dijual di lebih dari 175 negara.

Di tahun 1920, seorang pegawai Johnson & Johnson bernama Earle Dickson menciptakan prototipe plester untuk Josephine, istrinya yang sering ceroboh dan tidak sengaja mengiris tangannya sendiri sewaktu memasak. Dengan adanya plester ini, sang istri bisa dengan mudah mengobati sendiri lukanya. Earle Dickson yang waktu itu tinggal Highland Park, New Jersey menyampaikan idenya ke atasannya yang kemudian memproduksi dan menjual produk plester tersebut dengan nama Band-Aid. Dickson kemudian sangat sukses dalam kariernya di Johnson & Johnson hingga sempat diangkat sebagai Wakil Direktur.

 

Plester obat yang pertama dibuat secara manual dan tidak begitu populer. Di tahun 1924, Johnson & Johnson memperkenalkan mesin yang dapat membuat Band-Aid steril. Selama Perang Dunia II, jutaan lembar plester obat Band-Aid diproduksi dan dikirim ke luar negeri. Di tahun 1951 plester obat Band-Aid mulai dipasarkan dengan gambar-gambar menarik. Plester bergambar seperti ini sukses dan produksi masih diteruskan hingga sekarang dengan gambar karakter seperti Batman dan Peanuts (Snoopy).

“Latar Belakang Masalah”

Perusahaan farmasi terkemuka Johnson & Johnson. Pada tahun 1982, perusahaan ini menguasai lebih dari 36 persen perdagangan obat pusing kepala di seluruh Amerika. Produk Tylenol merupakan produk unggulan dan telah menghabisakan dana kampanye produk hingga jutaan dolar. Namun, suatu ketika Tylenol terkontaminasi dengan racun sianida dan tragisnya tujuh orang mati setelah meminum obat tersebut di Chicago.

Dalam waktu singkat, jajaran manajemen dan bagian public relations Johnson & Johnson melalukan serangkaian tindakan cepat: menghentikan produksi dan distribusi Tylenol, menarik produk dari pasar, meluncurkan kampanye masif yang memintta konsumen menukar Tylenol dengan produk yang lebih aman, hingga memanggil 50 karyawan bagian public relations untuk menjadi staf di pusat pemberitaan.

Meski langkah-langkah telah diambil untuk mengantisipasi tidak meluasnya efek berbahaya obat sakit kepala produksi mereka, namun ada satu kekhawatiran besar yang siap menghadang, yaitu bagaimana memulihkan kepercayaan publik untuk memakai produk-produk, khususnya Tylenol, yang dikeluarkan oleh Johnson & Johnson. Untuk mengantisipasi masalah ini pihak Johnson & Johnson akhirnya menggunakan jasa agen public relations Burson-Masteller.

Johnson & Johnson pun melakukan kampanye media dengan memanfaatkan penghargaan media atas sikap terbuka perusahaan selama menangani krisis, mengundang lebih dari 600 jurnalis dari 30 kota besar untuk menghadiri telekonferensi video, mengirimkan 7.500 media kit ke kantor-kantor berita sebelum telekonferensi, melatih jajaran eksekutif perusahaan agar dapat tampil mengesankan dan berkomunikasi yang baik ketika berhadapan dengan wartawan, dan mendistribusikan 80 juta kupon gratis yang dapat ditukarkan dengan produk Tylenol yang baru. Rangkaian kegiatan tersebut menghabiskan dana dan melibatkan para pekerja yang tidak sedikit. 

MIZONE (Danone) 

MIZONE didirikan pada tanggal 27 September 2005 di bawah naungan PT. AQUA GOLDEN MISSISSIPI Mizone sendiri merupakan produk yang sudah dikenal di New Zealand, Australia, dan China. MIZONE hadir di Indonesia sebagai sebuah inovasi baru dalam kategori minuman ISOTONIK. Dengan kandungan HYDROMAXX nya Mizone dapat menggantikan cairan tubuh yang hilang dengan mudah.

Mizone yang diproduksi oleh Danone Aqua merupakan kategori minuman isotonik bernutrisi. Diluncurkan pertama di Surabaya dengan rasa orange lime yang menyegarkan, rasa passion fruit yang memanjakan selera, dan pada Juni 2008 meluncurkan varian baru dengan rasa lychee lemon yang sensasional. Mengandung Hydromaxx yaitu : Vitamin B1, B3, B6, dan B12 untuk membantu metabolisme karbohidrat menjadi energi, Vitamin C, sebagai antioksidan untuk menjaga kahidupan sel dalam tubuh, dan elektrolit untuk menggantikan mineral yang hilang akibat pengeluaran keringat. Sekarang Mizone yang merupakan Minuman Isotonik Bernutrisi telah memiliki:

Rasa ORANGE LIME yang menyegarkan, PASSION FRUIT yang memanjakan selera, dan LYCHEE LEMON yang sensasional. Kemasan BOTOL yang UNIK, 500 ml, ukuran yang tepat untuk diminum di jalan. Harga yang pas Rp. 2.500,00 HYDROMAXX, yaitu:
Vitamin B1, B3, B6 and B12 untuk membantu metabolisme karbohidrat menjadi energi.
Vitamin E sebagai anti-oksidan, untuk membantu menjaga sel dalam tubuh.
Elektrolit untuk mengantikan mineral yang hilang melalui keringat.
Kualitas terjamin karena diproduksi oleh DANONE AQUA yang berpengalaman dalam memproduksi minuman dalam kemasan

Pada waktu sebelumnya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan pertemuan dengan Komite Masyarakat Anti Bahan Pengawet (Kombet) untuk membahas mengenai minuman yang diduga mengandung bahan minuman yang memiliki komposisi yang tidak sesuai dengan bahan yang telah didaftarkan ke BPOM itu sendiri dan dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat jika dikonsumsi secara terus menerus. Menurut pihak Kombet beberapa jenis minuman telah melanggar ketentuan pelabelan serta pencantuman kandungan bahan pengawet Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat. Oleh karena itu untuk menindaklanjuti hal ini, pihak BPOM mengadakan uji tes akan bahan kandungan dalam produk minuman. Uji tes telah dilakukan pada sembilan jenis minuman dari beberapa kategori seperti minuman isotonik (pengganti cairan tubuh), jus, teh/kopi, dan tasted beverage berpengawet. Produk minuman yang dimaksud adalah Mizone, Zporto, Mogu-mogu, Jungle Jus, Zestea, Boyzone, Zegar Isotonik, Kopi Kap, dan Jolly Cool. Dari sembilan produk di atas, hanya lima produk yang akan dilakukan penarikan dari pasar, penggantian label, atau pemusnahan. Kelima produk itu adalah Mizone, Zporto, Mogu-mogu, Jungle Jus dan Zestea. Sedangkan keempat lainnya tidak ditindaklanjuti karena tidak terdaftar dalam database BPOM.

Berikut ini akan lebih dibahas secara rinci mengenai minuman Mizone. Seperti yang kita ketahui minuman Mizone mengalami suatu kasus yang menyebabkan produk tersebut ditarik dari pasaran karena diduga mengandung bahan pengawet yang berbahaya beberapa pihak. Kasus yang terjadi adalah karena perusahaan hanya mencantumkan satu dari dua bahan pengawet yang digunakan dalam produknya.

Menurut pernyataan dari pihak BPOM yang menyebabkan produk minuman tersebut melanggar ketentuan perlabelan. Sebab, komposisi bahan kandungan yang tertera di label produk tidak sesuai dengan yang disebutkan saat mengajukan izin peredaran. Dalam label hanya dicantumkan bahan pengawet Kalium Sorbat. Padahal Mizone juga menggunakan bahan pengawet Natrium Benzoat yang menurut beberapa pihak bahan tersebut dapat menyebabkan penyakit lupus. Sedangkan sebanyak 64,8 persen masyarakat itu sendiri tidak tahu jenis bahan pengawet seperti natrium benzoat. Dalam menindaklanjuti kasus ini, pihak BPOM meminta produk Mizone ditarik dari pasaran dan labelnya pun harus diganti untuk merubah image buruk yang sudah terbentuk dalam benak masyarakat luas.Pada kenyataanya produk minuman Isotonik yang kami produksi yaitu Mizone,tidak menyebabkan penyakit Lupus seperti yang selama ini gencar diberitakan media. Hal tersebut juga kami buktikan dengan adanya surat Edaran dari Kepala BPOM yang akan kami sampaikan saat Press Conference. Kami akan segera menarik produk kami sesuai dengan tenggang waktu yang disesuaikan BPOM. Kita akan ganti labelnya dan akan mencantumkan dua bahan pengawet di produk itu.

ASURANSI PRUDENTIAL 

Didirikan pada tahun 1995, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) merupakan anak perusahaan dari Prudential plc, sebuah jasa keuangan internasional terkemuka grup dari Inggris yang memiliki lebih dari £ 340000000000 (Rp 4.782 triliun) aset yang dikelola (pada tanggal 31 Desember 2010). Menggabungkan pengalaman global Prudential di bidang asuransi jiwa selama lebih dari 160 tahun dengan pengetahuan tentang adat istiadat setempat dan bisnis, Prudential Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.
Sejak diluncurkan pertama kami unit-linked (asuransi jiwa dikaitkan dengan investasi) produk pada tahun 1999, Prudential Indonesia merupakan pemimpin pasar produk ini khusus di Indonesia. Prudential Indonesia juga menyediakan berbagai produk dan layanan yang dirancang untuk memenuhi dan melengkapi setiap kebutuhan para nasabahnya. Pada tanggal 31 Desember 2010, Prudential Indonesia memiliki 7 kantor pemasaran (di Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, Batam, Denpasar dan Semarang) dan kantor-kantor keagenan 219 (di banyak daerah di Indonesia termasuk, Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, Batam dan Bali). Prudential Indonesia memiliki jaringan lebih dari 85.000 jaringan tenaga pemasaran berlisensi, melayani lebih dari 1.100.000 pelanggan.

Berbagai penghargaan diberikan kepada Prudential Indonesia selama bertahun-tahun, termasuk tahun 2011 sampai dengan Januari: 

1. Top Brand Award 2011 di Kategori Asuransi Jiwa untuk kedua kalinya berturut-turut dari Majalah Marketing bekerjasama dengan Frontier Consulting Group.
2. Indonesia Paling Menguntungkan Merek Sosial 2010 kategori ininsurance Media dari majalah SWA, Sitti, dan OMG
3. Digital Marketing Award 2010 untuk website perusahaan dalam kategori perusahaan asuransi jiwa dari majalah Marketing bekerja sama dengan Digital Survei Salah satu perusahaan riset Pemasaran Grup.
4. Indonesia Paling Favorite Netizen Brand 2010 untuk kategori asuransi jiwa dari Marketeers bekerjasama dengan Mark Plus perusahaan penelitian Insight
5. Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) 2010 untuk kategori asuransi jiwa dari majalah SWA bekerjasama dengan Frontier Consulting Group perusahaan riset.
6. Terbaik Syariah Asuransi Jiwa 2010 untuk kategori perusahaan asuransi jiwa dengan aset diatas Rp 100 miliar pada “Investor Bank Syariah Terbaik 2010” dari Majalah Investor.
7. Service Quality Award 2010. Menerima “Emas” kualifikasi dalam “Life Jasa Asuransi” kategori dan “Diamond” kualifikasi dalam kategori “Asuransi Kesehatan Layanan”. Penghargaan diberikan oleh Majalah Marketing bekerjasama dengan Carre CSL.
8. Top Brand Award 2010 di kategori Asuransi Jiwa berdasarkan Top Brand Index 2010 dari Majalah Marketing bekerjasama dengan Frontier Consulting Group.
9. Marketeers Award: Brand Terbesar Dekade ini. Editor’s Choice untuk kategori asuransi jiwa, sub kategori merek produk PRUlink dari MarkPlus, Inc bekerjasama dengan masyarakat Marketeers.
10. Indonesia’s Most Admired Company (IMAC) 2010 penghargaan dari Bloomberg majalah BusinessWeek sebagai The Best di Gedung dan Managing Corporate Image dalam kategori asuransi jiwa.
11. Terbaik Perusahaan Asuransi Jiwa dalam Investor Awards 2010 dari majalah Investor dalam kategori aset lebih dari Rp10 triliun. Prudential mempertahankan “Star Performer” piala untuk memenangkan kategori dalam 8 tahun berturut-turut. 

12. Asuransi Award 2010. posisi teratas dalam kategori “Baik Asuransi Jiwa” di sub kategori ekuitas lebih dari 250 miliar pada “Insurance Awards 2010” yang diselenggarakan oleh Media Asuransi Magazine.
13. Kehidupan Islam Terbaik Asuransi, The Most ekspansif Asuransi, dan Investasi Paling Menguntungkan dalam Award Keuangan Islam 2010 yang diselenggarakan oleh Karim Consulting.

“Latar Belakang Masalah”

Lee Boon Siong bekerja sebagai agen penjual produk asuransi Prudential. Menurut perjanjian, kalau target penjualan tercapai, Prudential memberi bonus. Tetapi, ketika target terpenuhi, kontrak diputus Prudential secara sepihak. Lee kehilangan bonus sekitar Rp 5 miliar. Juga potensi angsuran bonus sampai 2013 senilai Rp 360 miliar. Itu menurut Lee. Prudential menampik. Lee mengajukan Prudential ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Dan minggu lalu pengadilan memenangkan Lee dan memailitkan Prudential. Pertanyaannya adalah apakah keputusan pengadilan yang melegalkan tuntutan Lee bisa dibenarkan? Mengingat sejarah kotor pengadilan kita dan kontroversi pemailitan Manulife dua tahun lalu, banyak yang mempertanyakannya. Jangan-jangan semua ini hanya sirkus hukum yang memanfaatkan kelemahan UU Kepailitan dan sistem peradilan kita.
Kalaupun pengadilan benar tuntutan Lee sah, masih ada pertanyaan lain: apakah pemailitan solusi terbaik? Tak adakah pilihan penyelesaian lain? Sulit diterima akal. Prudential perusahaan yang sehat, terkelola baik, dan bereputasi tinggi. Rasio kecukupan modalnya pada 2003 sebesar 255 persen, jauh dari persyaratan minimum 100 persen. Keuangannya juga lancar dengan tingkat likuiditas 110 persen. Tahun lalu Prudential menggandakan pendapatan premi, dua kali lipat lebih; dan membukukan laba Rp 78 miliar. Lagi pula, kalau tuntutan Lee sah, kewajiban Prudential pada Lee pun tak sampai enam miliar, tak sebanding dengan kekayaannya yang Rp 1,5 triliun rupiah. Sisanya masih bisa diangsur sampai 2013. Apakah tidak lebih baik pengadilan memerintahkan Prudential segera membayar kewajiban yang sekitar lima miliar itu, dan mencicil sisanya sampai 2013 sesuai dengan kontrak yang diklaim Lee?

Tak bisa tidak, kasus Prudential ini mempertontonkan muka buruk UU Kepailitan dan sistem peradilan kita. Pertama, terlalu mudah bagi kreditor memailitkan perusahaan yang sehat sekalipun, kadang hanya karena sengketa utang yang keberadaannya masih bisa diperdebatkan. Tak ada batasan minimum tagihan, tak ada pertimbangan nilai kekayaan perusahaan. Kemudahan kreditor mengambil kembali uang yang ditanamkannya memang harus dijamin UU Kepailitan, justru jaminan inilah kekuatannya. Kalau pengelola teledor atau perusahaan rugi, kreditor bisa meminta pengadilan menyita kekayaan perusahaan dan kemudian menjualnya

Masalahnya, mengingat reputasi peradilan yang sarat korupsi, makin ringan syarat pemailitan, makin rentan UU ini disalahgunakan.
Kedua, UU Kepailitan tidak mempertimbangkan dampak sosial penutupan perusahaan. Untuk perusahaan asuransi seperti Prudential, ini sangat penting. Ribuan pemegang polis akan gelagapan kalau perusahaan asuransinya yang sehat walafiat tiba-tiba dipailitkan. Apalagi pemerintah yang mengatur dan mengawasi industri asuransi sama sekali tidak dilibatkan dalam pemailitan. Padahal, pemerintah sangat berkepentingan menjamin kestabilan industri keuangan dan menjaga kepentingan pemegang polis. Mungkin industri asuransi sebaiknya dikecualikan dalam UU Kepailitan, hanya bisa dipailitkan pemerintah seperti halnya industri perbankan. Atau setidaknya pemailitannya atas persetujuan pemerintah.
Ketiga, yang mungkin paling penting, kasus Prudential ini gagal menjaga semangat yang mendasari pelaksanaan UU Kepailitan. Seharusnya, tujuan utama UU Kepailitan adalah mengoptimalkan kepentingan seluruh stakeholder, bukan hanya kreditor. Karena sehat dan bisa memenuhi kewajibannya, sebaiknya Prudential dibolehkan terus beroperasi. Pengadilan memailitkan perusahaan hanya kalau tak bisa diselamatkan lagi untuk memaksimalkan tingkat pengembalian bagi pemodal dan kreditor. Pemailitan juga seharusnya digunakan untuk menghukum pengelola dan pemilik perusahaan yang sembrono. Kalau tak mau perusahaannya diambil alih, manajemen terdorong mengelola perusahaan dengan baik dan hati-hati. Anehnya, perusahaan sehat dan bereputasi pun ternyata bisa tiba-tiba pailit.

Pemailitan juga seharusnya hanya menjadi jalan terakhir setelah semua jalan lain buntu karena kepailitan sangat mahal biayanya bagi ekonomi. Akan ada pekerja yang dipecat dan aset yang salah urus ketika diambil alih. Pemerintah pun kehilangan potensi penerimaan pajak kalau perusahaan yang dipailitkan sebenarnya masih bisa diselamatkan. Pengadilan sebaiknya menggunakan UU Kepailitan sebagai tongkat yang mendorong kreditor dan debitor untuk 

duduk bersama menyelesaikan masalah mereka. Kalau perlu, dengan merestruktur utang perusahaan. Sekarang UU Kepailitan sedang diamendemen. Diusulkan kreditor hanya boleh memailitkan perusahaan kalau nilai utangnya lebih dari setengah total utang perusahaan. Ini langkah bagus untuk membatasi pemailitan yang tak perlu, tapi mungkin batasnya terlalu tinggi sehingga merugikan kreditor kecil. Pilihan restrukturisasi utang juga akan diutamakan, atas usul pengelola, kreditor, atau pemegang saham. Untuk menjaga akuntabilitas hakim, setiap putusan harus terbuka untuk umum, termasuk dissenting opinion. Perusahaan asuransi juga hanya akan bisa dipailitkan oleh pengawasnya, Departemen Keuangan. Singkatnya, kasus Prudential ini menggarisbawahi empat hal.
Amendemen UU Kepailitan tidak boleh ditunda lagi. Semangat UU Kepailitan sebagai tongkat yang mendorong kreditor dan debitor duduk bersama seharusnya ditekankan dalam amendemen itu. Untuk menjaga kepentingan pemegang polis kalau perusahaan asuransinya pailit, pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana sebaiknya sistem jaring pengaman industri asuransi. Di atas semua itu, peradilan perlu dibersihkan dari korupsi, setiap pelanggaran harus dihukum berat. Amendemen UU Kepailitan sebaik apa pun tak akan berarti tanpanya.

“Pengklarifikasian”

Lee Boon Siong bekerja sebagai agen penjual produk asuransi Prudential. Menurut perjanjian, kalau target penjualan tercapai, Prudential memberi bonus. Tetapi, ketika target terpenuhi, kontrak diputus Prudential secara sepihak. Lee kehilangan bonus sekitar Rp 5 miliar. Juga potensi angsuran bonus sampai 2013 senilai Rp 360 miliar. Itu menurut Lee. Prudential menampik. Lee mengajukan Prudential ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Dan minggu lalu pengadilan memenangkan Lee dan memailitkan Prudential

 

OREO (NABISCO)

Tahun 1898, beberapa perusahaan kue bergabung untuk membentuk National Biscuit Company (Nabisco), pembuat Oreo cookie. Pada 1902, Nabisco menciptakan Barnum’s Animal dan membuat mereka terkenal dengan menjual oreo dalam kotak kecil dirancang seperti sebuah kandang dengan tali terpasang (untuk digantung di pohon Natal). Pada tahun 1912, Nabisco punya ide baru untuk sebuah cookie – dua cokelat dengan creme mengisi di antara keduanya. Cookie Oreo pertama terlihat sangat mirip dengan kue Oreo hari ini, dengan hanya sedikit perbedaan dalam desain pada disk cokelat.  

 

Bentuk dan desain dari Oreo cookie tidak banyak berubah sampai Nabisco mulai menjual berbagai versi cookie. Nabisco terus menciptakan variasi:

  • Fudge covered Oreos introduced 1987 – memperkenalkan Oreo Fudge tertutup. 1987
  • Halloween Oreos introduced 1991 – memperkenalkan Oreo Halloween. 1991
  • Christmas Oreos introduced 1995 – memperkenalkan Oreo Natal. 1995

Jadi, bagaimana Oreo mendapatkan namanya? Orang-orang di Nabisco tidak cukup yakin. Beberapa percaya bahwa nama oreo diambil dari kata Prancis untuk emas, “atau” (warna utama pada Oreo awal paket). disisi lain mengklaim nama oreo berasal dari bentuk bukit berbentuk tes version; sehingga penamaan oreo dalam bahasa Yunani untuk gunung, “Oreo.” Yang lain percaya bahwa nama adalah kombinasi dari mengambil “kembali” dari “krim” dan meletakkannya di antara dua “o” dalam “coklat” – membuat “o-re-o.” Dan yang lain percaya bahwa cookie itu bernama Oreo karena pendek dan mudah untuk diucapkan. Tidak peduli bagaimana nama itu diciptakan, lebih dari 362 milyar oreo cookies telah terjual sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1912, membuat kue penjualan yang terbaik dari abad ke-20. Oreo adalah nama dagang dari sejenis biskuit yang diproduksi oleh Nabisco, pertama kali pada 1912. Terdiri dari dua wafer coklat dengan krim putih di tengahnya. Salah satu cara populer untuk memakan Oreo adalah dengan mencelupkannya ke dalam susu. 

“Analisa Penelitian”

Sejak kasus produk susu buatan china yang menewaskan 4 orang anak dan 54.000 penyakit lainnya terungkap, pemerintah mulai mengadakan peninjauan langsung kepada pasar-pasar dan supermarket untuk memeriksa produk-produk apa saja yang mengandung susu china. Kekhawatiran pun semakin meluas ketika diketahui susu import china ini digunakan untuk membuat yoghurt, permen, coklat dan makanan ringan lainnya (www.googel.com/bakohumas)

 

Oreo adalah salah satu produk makanan ringan yang dikabarkan mengandung susu china atau melamin. Melamin (C3H6N6) adalah sebuah zat kimia berbentuk kristal putih yang digunakan untuk membuat produk plastik, pupuk,bahan perekat,bahan untuk produk tahan api,polimer dan pembersih. Pada konsentrasi tinggi, zat kimia ini bisa menyebabkan batu ginjal dan gagal ginjal, khususnya pada bayi. Ketika dicerna, metabolisme menghasilkan amonia di dalam tubuh yang menyebabkan kegagalan ginjal. Melamin dalam produk oreo digunakan sebagai pengkilat biskuit coklat dan pemutih pada cream rasa yang terdapat di lapisan tengah biskuit.

 

Setelah BPOM melakukan tinjauan langsung pada pasar dan supermarket maka tidak lama seluruh produk oreo langsung dicabut dari peredaran, karena dianggap tidak sesuai dengan kandungan makanan yang semstinya dan terdapat zat kimia yang dapat berdampak buruk pada tubuh apabla di konsumsi pada waktu yang lama. Hal tersebut yang membuat oreo ditarik dari pasar. Akhirnya oreo mengalami kerugian yang sangat besar. Krisis kepercayaan dan kerugian secara materiil dan immateriil.

Dilihat dari kasus yang menimpa OREO, seperti yang telah di jelaskan diatas, OREO mengalami krisis kepercayaan, yang telah tertanam sejak lama khususnya di negara Indonesia. Dengan adanya kasus tersebut maka oreo benar-benar dalam posisi yang sangat sulit. Oreo mengalami krisis kepercayaan yaitu, kondisi dimana publik sudah tidak lagi percaya dan mau menggunakan lagi produk oreo tersebut. Krisis inilah yang paling parah bagi sejarah perusahaan karena apabila publik sudah tidak percaya lagi pada produk tersebut maka akan berdampak besar bagi kelanjutan perusahaan. 

 

7 pemikiran pada “DAFTAR KRISIS PERUSAHAAN DI BERBAGAI SEKTOR (Contoh kasus)

  1. boleh disebutkan sumber informasi dari artikel yang mbak tulis? saya butuh untuk referensi thesis saya

    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s